Minggu, 22 Desember 2013

About Queer

QUEER THEORY

PENDAHULUAN
Dalam kamus, “queer” berarti aneh, kacau, abnormal, dan tidak disukai. Dengan demikian, Teori Queer berkenaan dengan hubungan-hubungan yang aneh atau yang tidak biasa. Jika “hubungan sosial” merupakan objek pokok dalam sosiologi, maka ia hanya membicarakan hubungan-hubungan yang normal; atau tepatnya, hubungan-hubungan manusia normal. Sebagian ahli tidak merasa cukup dengan teori-teori yang telah ada tentang hubungan sosial yang normal ini. Mereka merasa perlu menciptakan teori khusus berkenaan dengan manusia-manusia yang “tidak biasa” tersebut.
Dalam teori queer, diungkapkan bagaimana bentuk hubungan yang paling otentik dan juga radikal. Bagaimana seorang lesbian dan seorang gay berhubungan sesamanya merupakan objek dalam teori ini. Sangat menarik mempelajari hubungan seperti apa yang terjadi ketika seorang lesbian berhubungan dengan sesamanya, dengan seorang gay, dan seterusnya. Namun kemudian, teori ini mencoba menyumbang pada teori sosiologi pada umumnya, dengan salah satunya mengusung konsep pluralisme misalnya. Mungkin maksudnya adalah melalui pelajaran dari hubungan-hubungan yang sumbang ini ingin menyumbangkan pengetahuan betapa ada hubungan-hubungan yang khas, yang mungkin dapat memperkaya bahkan “teoritisi normal” untuk memperkaya teori-teori mereka.
Teori queer berakar dari materi bahwa identitas tidak bersifat tetap dan stabil. Identitas bersifat historis dan dikonstruksi secara sosial. Dalam konteks teori, teori ini dapat digolongkan sebagai sesuatu yang anti identitas. Ia bisa dimaknai sebagai sesuatu yang tidak normal atau aneh. Dalam teori ini terdapat tiga makna intelektual dan politik, meskipun sulit membuat batasan-batasannya. Arlene Stein dan Ken Plummer mencatat ada empat tiang atau penanda dari teori queer ini, yaitu:
1.      Melakukan konseptualisasi seksualitas yang mempelajari kekuasaan seksual dalam berbagai level kehidupan sosial, dan membicarakan bagaimana relasi power seksual berlangsung.
2.      Problem seksual dan kategori gender dan identitas secara umum
3.      Menolak strategi hak-hak sipil. Sebagai contoh, klaim politik berbasis identitas misalnya mengangkat gerakan hak-hak kaum lesbian.
4.      Keinginan untuk menjadikan seksualitas sebagai analisis untuk setiap bidang yang diteliti, misalnya festival musik, kultur pop, gerakan sosial, dan lain-lain.
Teori queer mempelajari gay dan lesbian, dimana homoseksual diposisikan sebagai subjek. Disinilah stand point teori queer. Karena posisinya inilah, maka ada yang menyebut bahwa ini bukan institusi pengetahuan, tapi semata hanya proses dekonstruksi. Teori ini lahir sebagai hasil dari pengaruh arkeologi pengetahuan dan genealogi kekuasaan pada akhir 1980-an sampai dengan sepanjang 1990-an.
Teori ini tidak hanya menyangkut sisi gender tetapi juga seks. Ia mengkaji kombinasi dari berbagai kemungkinan dari tampilan gender serta tentang proses yang berfokus pada gerakan yang melampaui ide, ekspresi, hubungan, tempat dan keinginan yang menginovasi berbagai perbedaan cara penjelmaan di dunia sosial. Model queer ini dijadikan kerangka kerja dalam mempelajari isu-isu gender, seksualitas dan bahkan politik identitas.
Dalam Ritzer disebutkan, kritik terhadap teori queer adalah bahwa ia tidak berbentuk sebagai politik inklusi dan menolak karakter tunggal tentang identitas seperti ras, kelas, atau peran seks dalam aksi politik. Di sisi lain, ada sebagian ahlinya yang berusaha agar teori ini menjadi lebih sensitif secara sosial.

AWAL DAN PERKEMBANGAN
Tokoh utama tentang identitas gay ini dikembangkan oleh Michel Foucault, dalam serangkaian karyanya untuk menganalisis sejarah seksualitas dari Yunani kuno sampai era modern (1980, 1985, 1986). Tetapi karya ini terhenti oleh kematiannya pada tahun 1984, Michel Foucault mendapatkan pengertian tentang seksualitas dapat berbeda  dalam  ruang  dan waktu serta  argumennya  ini  terbukti  sangat  berpengaruh dalam teori gay dan lesbian pada umumnya dan teori queer pada khususnya. Foucault menyatakan bahwa seksualitas  itu terbentuk dari  dasar  sosial  yang  terbentuk secara alami (Stanford, 2006).
Foucault menjelaskan dalam The History of Sexuality, dua ratus tahun yang lalu tidak ada kategori linguistik untuk gay laki-laki. Sebaliknya, istilah yang diterapkan untuk seks antara dua pria adalah sodomi . Seiring waktu, konsep "homoseksual" diciptakan dalam tabung tes melalui wacana dari kedokteran dan khususnya psikiatri.
Banyak orang keliru percaya bahwa istilah "teori queer" hanya sinonim untuk "studi gay & lesbian." Pada kenyataannya, teori aneh adalah bagian yang sangat spesifik dari studi gay & lesbian yang didasarkan pada "gagasan bahwa identitas tidak tetap dan tidak menentukan siapa kita." Istilah ini diciptakan oleh Teresa de Lauretis pada tahun 1990. Kemudian istilah queer diperkenalkan pada tahun 1990, tokoh penting dalam teori ini adalah Eve Kosofsky Sedgwick , Judith Butler , Adrienne Rich dan Diana Fuss yang sebagian besar mengikuti karya Michel Foucault.
Menurut Peter Barry (165;2010) Teori queer juga berakar dari teori feminisme. Feminimisme kalsik telah memarginalisasi atau mengacuhkan lesbianisme. Kondisi ini dibalas dengan argumen bahwa, sebaliknya, lesbianisme semestinya dianggap sebagai wujud feminisme paling utuh. Konflik yang meletus antara kaum feminis dengan heteroseksual dangan lesbian ini diredakan melalui 1 esai penting, yaitu karya Adrienne Rich yang memperkenalkan gagasan ‘malaran lesbian’ (dalam esainya ‘Compulsory heterosexuality and lesbian existence’, yang dalam bukunya Blood, Bread and Poetry: Selected Prose, 1979-1985, Virago 1987).
Saya memaksudkan istilah malaran lesbian untuk mencakup selingkupan pengalaman yang diidentifikasi oleh perempuan – melalui kehidupan setiap perempuan dan di sepanjang sejarah; bukan sekedar fakta bahwa seorang perempuan pernah memiliki atau secara sadar menghasratkan pengalaman seksual yang melibatkan kelamin dengan perempuan lain.
          (Dikutip dalam Greene & Kahn, Making a Difference, hlm. 184 )
Karena itu, konsep malaran lesbian ini menunjukkan variasi perilaku perempuan secara luas, misalnya dari jejaring bantuan mutual informal yang didirikan kaum perempuan di dalam profesi atau institusi tertentu, sampai ke pertemanan perempuan yang saling mendukung, dan akhirnya sampai ke hubungan seksual. Dari definisi ini menyiratkan adanya interkoneksi antara cara-cara berbeda yang digunakan perempuan untuk saling menjalin ikatan.
Sebagai akibat dari kritik-kritik ini pendekatan lesbian memisahkan diri dari feminisme arus utama sepanjang tahun 1980-an, namun barulah tahun 1990-an kritik lesbian juga menolak esensialisme yang bisa dibilang telah mewarisinya dari feminisme. Dan ditahun 1990-an pula lah, muncul gagasan yang tidak begitu esensialis mengenai lesbianisme di dalam lingkup dari apa kini dikenal sebagai TEORI QUEER.
Menurut Rubin, Foucault and Butler, seksualitas merupakan sebuah konstruk sosial, bukan fakta kromosomik-biologis. Mereka menggugat ortodoksi teoritik tentang seksualitas, yang seluruh prinsip-prinsipnya didasarkan pada esensialisme seksual. Yaitu paham yang menganggap seksualitas merupakan fenomena biologis, kenyataan alamiah yang melampaui kenyataan sosial. Bagi mereka, seksualitas bukan sesuatu yang tidak berubah, asosial, dan trans-historis. Seksualitas sangat terikat dengan sejarah dan perubahan sosial. Tidak bersumber pada hormon, psike dan hukum Tuhan.. Rubin, Foucault dan Butler menantang paham bahwa seksualitas adalah kekayaan pribadi, yang bersifat fisiologis dan psikologis.
Kemudian menurut Eve Sedgwick dalam bukunya yang amat berpengaruh, Epistemology of the Closet. Sedgwick menilai bahwa “keluar dari lemari baju” (coming out of the closet – artinya, secara terbuka mengungkapkan orientasi seksual gay atau lesbian dalam diri seseorang) bukanlah satu tindakan tunggal yang absolut. Kondisi gay dapat diumumkan secara terbuka kapada keluarga dan teman, tapi tidak terlalu menyeluruh di hadapan atasan atau kolega dan mungkin tidak sama sekali pada bank atau perusahaan asuransi. Karena itu berada “di dalam” atau “di luar” lemari baju bukanlah dikotomi sederhana atau peristiwa sekali seumur hidup. Tindakan merahasiakan atau keterbukaan dalam tingkat yang berbeda-beda dalam kehidupan adalah wajar.

KONSEP
Teori queer didasarkan pada gender dan seksualitas. Karena hubungan ini, perdebatan muncul, apakah orientasi seksual adalah alami atau esensial ke orang, Teori ini tidak hanya menyangkut sisi gender tetapi juga seks. Ia mengkaji kombinasi dari berbagai kemungkinan dari tampilan gender serta tentang proses yang berfokus pada gerakan yang melampaui ide, ekspresi, hubungan, tempat dan keinginan yang menginovasi berbagai perbedaan cara penjelmaan di dunia sosial.
Teori homoseksual merupakan identifikasi gender. Teori ini secara liberal menentang gender (maskulin/feminin) dan seks (laki-laki/perempuan). Menurut Butler, gender adalah kategori yang selalu bergeser: gender seharusnya tidak ditafsirkan sebagai identitas yang stabil, namun harus dilihat sebagai suatu identitas yang lemah terhadap waktu, berada dalam suatu ruang yang menyesuaikan dengan berulangnya sikap atau tingkah laku. Teori homoseksual harus berhadapan dengan pasangan dalam seluruh bentuk: pria/wanita, maskulin/feminin, gay/lesbian – menawarkan pandangan bahwa identitas selalu lebih luas dibandingkan dengan kategori dikotomi (pria dan wanita) yang sudah baku.
Bagi kritik sastra, konsekuensi dari antiesensialisme[1] dan lebih cenderung berhubungan dengan kritik sastra adalah kecenderungan melemahkan nilai realisme sastra, karena realisme sastra cenderung bergantung pada gagasan akan adanya identitas yang tetap dan sudut pandang yang stabil. Misalnya, sebuah novel realis cenderung memiliki narator mahatahu yang menyuguhkan serta menafsirkan peristiwa dalam novel dari posisi moral dan intelektual yang sudah tetap, peristiwa-peristiwa dipaparkan secara kronologis, dan tokoh-tokoh yang ditampilkan sebagai esensi-esensi stabil dengan kepribadian yang berkembang secara teratur dan kumulatif.


[1] memandang bahwa kebenaran atau identitas bukanlah sesuatu yang universal, yang berasal dari alam, melainkan hasil produksi budaya dalam waktu dan tempat tertentu.